Sukabumi like— Tim Museum Prabu Siliwangi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) ungkap isi Naskah Kuno patambaan siliwangi usai lakukan Penelitian Tahap ke-6.
Hasil penelitian Naskah kuno Patambaan siliwangi tersebut, secara langsung di Seminarkan oleh tim museum prabu siliwangi yang berlangsung di Aula Syeikh Kuro, Kompleks Pontren Modern Dzikir Alfath, Kota Sukabumi, Rabu (15/4/2026).
Menurut Ketua tim penelitian naskah kuno, Prof. Dr. KH. Muhammad Fajar Laksana, menjelaskan bahwa penelitian tahap keenam merupakan kajian mendalam terhadap manuskrip yang sebelumnya baru ditelaah secara umum pada bagian awal, tengah, dan akhir.
“Saat ini terdapat sedikitnya 29 naskah kuno manuskrip yang tengah diteliti, dengan usia diperkirakan lebih dari satu abad. Ini merupakan warisan turun-temurun keluarga yang memiliki nilai historis dan ilmiah tinggi,” ujarnya.
Sebagai pimpinan Ponpes Al-Fath sekaligus pengelola museum, KH. Fajar menegaskan bahwa naskah Patambaan Siliwangi tidak hanya penting sebagai warisan budaya, tetapi juga memiliki potensi strategis dalam mendorong sektor pariwisata dan pendidikan.
Menurutnya, isi naskah menunjukkan bahwa masyarakat Sunda masa lampau telah memiliki sistem pengobatan tradisional yang terstruktur, khususnya berbasis tanaman herbal.
“Dalam naskah yang telah dikaji, ditemukan puluhan jenis tumbuhan dengan khasiat pengobatan. Ini membuktikan bahwa leluhur kita memiliki pengetahuan medis berbasis pengalaman yang diwariskan lintas generasi,” jelasnya.
Penelitian ini merupakan hasil kolaborasi dengan BRIN yang telah mengidentifikasi puluhan manuskrip kuno di Museum Prabu Siliwangi. Dari berbagai tema yang ada, kajian tentang pengobatan tradisional atau patambaan dipilih sebagai fokus utama penelitian lanjutan.
Selain menelusuri isi naskah, penelitian juga dilakukan untuk memastikan keaslian serta validitas ilmiah manuskrip. Naskah-naskah tersebut diperkirakan berasal dari akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.
“Ini bukan sekadar dokumen lama, tetapi juga peluang besar. Jika ditetapkan sebagai warisan budaya, baik benda maupun tak benda, maka akan menarik minat wisatawan, peneliti, hingga akademisi,” tambah KH. Fajar.
Ia juga mengungkapkan adanya kesesuaian antara praktik pengobatan herbal yang dijalankannya secara turun-temurun dengan isi naskah yang telah diterjemahkan.
“Saya belajar dari tradisi keluarga, bukan dari naskah. Namun setelah dikaji, ternyata ramuan yang digunakan sama. Ini menunjukkan kesinambungan antara tradisi lisan dan manuskrip,” ungkapnya.
Ditempat yang sama, menurut peneliti filologi dari Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat UIN Jakarta, Ilham Nurwansah, menjelaskan bahwa naskah Patambaan Siliwangi merupakan dokumentasi pengetahuan empiris masyarakat masa lalu.
“Naskah ini dapat disebut sebagai kumpulan pengetahuan yang sangat kaya. Isinya mencakup resep pengobatan herbal, metode pengolahan, hingga aspek budaya seperti sistem kepercayaan dan perhitungan hari,” jelasnya.
Ia menambahkan, manuskrip setebal 148 halaman tersebut ditulis menggunakan aksara Jawa dengan bahasa Jawa dialek Cirebon yang bercampur unsur Sunda, mencerminkan karakter budaya wilayah peralihan.
Dengan kekayaan isi dan nilai historisnya, Patambaan Siliwangi dinilai memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan sebagai bagian dari identitas budaya lokal yang relevan di tingkat nasional.
Pihak penyelenggara berharap hasil penelitian ini dapat memperkuat legitimasi ilmiah naskah kuno sekaligus membuka peluang pengembangan wisata budaya, riset akademik, dan edukasi berbasis kearifan lokal di Sukabumi,"pungkasnya.
REPORTER: HH
REDAKTUR: RH


Komentar
Posting Komentar