Kegiatan yang mengusung tema “Suara Perempuan Denyut Peradaban Kota” tersebut juga dihadiri jajaran pengurus dan anggota PDA Aisyiyah, Forkopimda, dinas terkait, komunitas perempuan, anggota legislatif perempuan, serta sejumlah tamu undangan lainnya.
Sekretaris Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Sukabumi, Dr. H. Yana Fajar FY Basori, M.Si. mengatakan, seminar tersebut menjadi langkah awal untuk membangun diskusi yang lebih serius mengenai penguatan gerakan perempuan di Kota Sukabumi.
“Kegiatan ini hanya pemantik. Ke depan perlu ada diskusi yang lebih serius dan praktis bagaimana pemerintah kota bisa mengakomodasi gerakan perempuan melalui APBD,” ujarnya kepada wartawan.
Menurutnya, dukungan konkret pemerintah dan DPRD sangat dibutuhkan, terutama dalam bentuk penganggaran program pemberdayaan perempuan.
“Yang paling pokok adalah memastikan pembiayaan di APBD untuk gerakan organisasi perempuan juga siap memperkuat program yang dilakukan pemerintah daerah,” katanya.
Ia menambahkan, kolaborasi antara organisasi perempuan, eksekutif, dan legislatif menjadi penting agar berbagai gagasan yang muncul dapat diwujudkan menjadi kebijakan yang bermanfaat bagi masyarakat.
“Di abad ke-21 perempuan bukan lagi hanya berkebaya, tetapi perempuan juga harus berserikat untuk memperjuangkan dan mempengaruhi kebijakan,” tegasnya.
Sementara itu, istri Wakil Wali Kota Sukabumi sekaligus anggota Komunitas Restu Bumi, Desi Florita mengatakan, seminar tersebut membahas berbagai persoalan perempuan dan perkotaan, mulai dari kesetaraan gender, persoalan sampah, infrastruktur, hingga transportasi umum.
Ia menyoroti tingginya kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dan perceraian yang masih menjadi persoalan di Kota Sukabumi.
“Permasalahan perempuan masih sangat banyak, khususnya KDRT dan perceraian. Kami akan terus berkolaborasi dengan organisasi perempuan dan pemerintah untuk mendorong solusi bersama,” katanya.
Wakil Sekretaris PDA Aisyiyah Kota Sukabumi, Santi Septiani, M.M. menjelaskan, kegiatan tersebut diawali dengan silaturahmi bersama DPRD Kota Sukabumi dan mengundang berbagai organisasi perempuan serta pejabat publik perempuan.
“Hari ini menjadi temu gagasan pertama di Kota Sukabumi yang melibatkan organisasi perempuan dan pejabat publik perempuan. Tujuan kami bukan hanya diskusi, tetapi melahirkan perubahan nyata,” ujarnya.
Menurutnya, seminar tersebut juga menjadi rangkaian peringatan Milad Aisyiyah ke-109 serta Hari Jadi Kota Sukabumi ke-112.
Ia berharap forum tersebut menjadi ruang bagi perempuan untuk menyampaikan aspirasi dan gagasan yang selama ini belum tersuarakan.
“Kami ingin perempuan memiliki ruang untuk bersuara dan bersama-sama mendorong perubahan yang lebih baik di Kota Sukabumi,” pungkasnya.



Komentar
Posting Komentar